Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Anak Khitan, Bapak Pingsan


Daniel adalah salah satu siswa kelas 6 SD Maju Mundur. Ia termasuk siswa yang cerdas.  Tapi entah kenapa teman-temannya sering meledeknya karena dia belum di khitan juga. Daniel merasa malu sekali.
 Setelah pulang sekolah, Daniel berkata pada bapaknya “Pak, saya kapan khitannya? Saya malu pak, di sekolah sering diledek teman-teman.”
 “Iya ngger, secepatnya kamu akan dikhitan. Tapi kalau bapak sudah punya uang ya. Kamu juga tahu sendirikan biaya untuk khitan terlalu besar bagi orang seperti kita.”kata bapak Daniel.
“Halah, jawabannya itu aja. Kenapa sih pak kita terlahir sebagai orang miskin trus kenapa juga bapak mau jadi orang miskin? Saya sudah capek, mau beli ini mau beli itu susah banget, sampai-sampai mau khitanan aja di undur-undur.” kata Daniel dengan marahnya. Karena bapaknya selau menjawab degan jawaban itu saja.
Bapak Daniel menjawab “Nak, kamu harus tau, tidak ada orang miskin jika tidak ada orang kaya. Lagi pula tidak ada satu orang pun yang mau jadi orang miskin. Ini semua sudah jadi kehendak Allah, pasti dibalik semua ini ada hikmahnya.”
“Baiklah pak, terserah bapak saja.” Jawab Daniel dengan rasa kecewanya. Lalu ia menuju ke kamar dan berdo’a kepada Allah supaya Bapaknya dapat diberi kemudahan dalam mencari uang supaya ia dapat dikhitan.
Fajar telah menyingsing di ufuk timur. Daniel berangkat ke sekolah dengan wajah penuh semangat. Lagi-lagi dia diledek temannya di sekolah. Karena dia tidak kuat dengan ledekan temannya, ia tidak jadi masuk sekolah. Dia berlari sangat kencang sambil menangis.
Sesampainya di rumah, bapak Daniel bertanya “Kamu kenapa pulang dengan menangis, seharusnya kamu kan sekolah, nak? Apa kamu masih diledek teman mu?”
Daniel menjawab “Iya pak, saya sudah tidak kuat lagi.”
“Ooo, masalah itu to, bapak tadi dengar kabar kalau menjelang akhir liburan sekolah semester Pemerintah akan mengadakan khitanan masal. Nah, dengan ini kamu bisa khitan dengan gratis nak.” kata bapak.
“Yes, aku mau dikhitan, hore...”jawab Daniel dengan girangnya.
Acara akan dimulai. Tapi, ada kejadian menarik dalam acara kali ini. Bapak Daniel tiba-tiba pingsan ketika melihat anaknya dikhitan. Tentu kejadian ini menarik perhatian semua orang.
“Mboten tega kula ningali (tidak tega saya melihatnya)” kata si bapak setelah pulih kesadarannya. Tapi, Daniel malah tersenyum ketika setelah dikhitan. Apalagi dapat bingkisan dari panitia.Ada nuansa haru saat sang bapak mulai berbinar berkaca-kaca. Dibalik itulah tersimpan kasih sayang orang tua yang tulus tak tergantikan.
Kini Daniel tidak perlu malu lagi di sekolah dan ia sekarang tidak diejek lagi oleh temannya.

Selasa, 22 November 2011

Kecepetan Nglempar....??


 Ada seorang preman yg sangat sekali jahat suka mencuri,bermaksiat, dan meminum-minuman keras. Suatu hari dia bertemu seorang ustad dan berkata"Pak ustad... saya ini preman, saya tahu dosa saya banyak namun, saya tidak yakin saya akan mampir ke neraka" ucapnya angkuh.
"Loh kenapa Anda tidak yakin ?..." tanya sang ustad bingung.
" Karena saat saya melewati jembatan Shirathall Musthakim karena neraka letaknya dibawah surga pada saat malaikat melempar saya dan sangat benci dengan tingkah laku saya, mereka terlalu kencang melempar dan akhirnya nerakanya kelewatan dan saya malah masuk Surga....
Betull tidak... Ustad bingung dengan apa yang dibicarakan preman itu. Lalu setelah dipikir-pikir kata pak ustad ada benarnya juga, karena saking bencinya malaikat melempar preman dengan sangat kencang. Terus kecepetan jadinya malah masuk surga. Sekarang jadi saya yang bingung...Ini yang salah si ustad apa si preman itu ya?? Apa semuanya salah?? Jangan-jangan itu ustad jadi-jadian? Hih....jadi bingun sendiri...Capek Deh.....



Hayooo siapa nih yang lagi Boring....???
Coba dech baca CERPEN ini....Pasti terhibur...
Kerena salah seorang Anak mengira rumah yang meledak itu karena dia bersin. Padahal rumah itu meledak karena kejatuhan rudal. Mau tau ceritanya??? Baca selengkapnya CERPEN di bawah ini.........

Gara-Gara Pesawat TNI
Sebuah Pesawat TNI terbang tidak seimbang karena kebanyakan muatan. "Buang beberapa barang" perintah komandan. mereka membuang pistol."Lagi!" lalu mereka membuang sniper."Lagi!" lalu mereka membuang rudal. Akhirnya pesawat dapat dikendalikan kembali. Saat mereka naik mobil, mereka melihat anak kecil menangis."Dik, kenapa menangis?" tanya seorang tentara. "Aku kejatuhan pistol."kata anak tersebut. Lalu mereka melihat anak yang menangis lebih keras."Dik, kenapa menangis?" tanya tentara lain."Aku kejatuhan sniper" kata anak tersebut. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dan melihat anak lagi. Kali ini dia tidak menangis. Si anak malah tertawa."hahahahaha" tawa anak itu."Dik, kenapa tertawa? apa yang lucu?" tanya komandan. "Tadi aku bersin dan rumah itu meledak" kata anak tersebut......Komandan pun terbelangak heran dengan apa yang diucapkan anak itu..

Arti Persahabatan Bagiku


Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. Tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Rizka! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok Kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. Sepedahan!” jelas Tantin dengan nada nyaring.

  Tantin orang yang simpel, punya banyak akal, temen yang perfect, and temen yang ngerti aku hehehe.. Dari kelas 6 SD sampai sekarang duduk di kelas 1 SMP - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah sepedahan – Tantin jagoannya yang nyari tempat bagus. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi saat sepedahan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka sepedahan, gara-gara Tantin, aku jadi ikut-ikutan suka sepedahan.

Sahabatku yang kedua adalah Meli, nama sebenarnya Meliana. Meli sangat asyik orangnya, badannya pas-pasan karena dia suah makan kata orang tuanya. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia datang kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata itu? Nanti disangka sakit mata loch” Tanyaku pada Meli yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini narsis banget kalau bahasa jawanya " NYICIL DINO JUM'AT, tapi tadi pagi rasanya dia nggak seperti itu. Tapi kacamata masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.

Kami pulang bersama naik sepeda bersama hanya sampai perempatan Bungkal saja, karena rumah kami yang jalannya berbeda arah, rumah kami jauh dari sekolah, Tantin dan Meli juga sudah temenan dari SD. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.
Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.
“Ohh iya itu!” Tantin dan Meli setuju dengan ku. Tantin melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Tantin seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Rizka – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Meli akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Tantin terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Rizka, ayo...satpam” Tantin membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Meli yang berdarah. Terlihat juga tangan Tantin yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh...Tantin juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Melly dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Tantin membalas perkataan Meli “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”

Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Tantin dan Melly datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “ Tantin malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PlayStation. Sedangkan Meli bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamatanya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Meli kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Meli dan Tantin. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Tantin dan Meli adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Meli dan Tantin salah satunya ).